Mendung menyelimuti langit Ibukota sore ini. Hawa dingin
mulai menusuk tulang. Kurapatkan jaket jins biru muda yang kusampirkan di bahu.
Sial. Hari ini aku menggunakan blus putih tipis. Sangat tidak efektif untuk
menghalau dingin yang semakin menusuk.
Kulirik jam tangan kulit cokelat muda-ku. Pukul lima lewat sepuluh menit. Tapi suasana disini sudah terlihat seperti pukul enam sore. Lampu-lampu penerang jalan pun terlihat sudah dinyalakan.
Jangan tanya bagaimana suasana sore itu. Kau tahu sendiri
bagaimana Jakarta di jam pulang kerja seperti ini. Semrawut.
Tak lama kemudian, rintik hujan mulai terdengar dari atap shelter bus Transjakarta tempatku berdiri saat ini. Hujan mulai turun. Suasana diluar sana terlihat semakin semrawut. Banyak orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Banyak pengendara sepeda motor yang berhenti di pinggir jalan untuk sekadar mengenakan jas hujan, atau berteduh di halte bus maupun dibawah pohon yang cukup rindang.
Aku suka saat seperti ini. Bau tanah bercampur air hujan yang khas. Aku menyebutnya bau hujan. Kupejamkan mataku untuk menikmati saat-saat ini. Tetes demi tetes hujan yang terdengar semakin deras, aroma khas hujan, membuatku teringat akan kenangan itu. Kenangan bersamamu.
Ah, pada awalnya, aku benci hujan. Tapi kamu datang membawa arti lain tentang hujan.
Kemana saja aku selama ini? Ternyata hujan begitu menenangkan.
Kemana saja aku selama ini? Ternyata aku menikmati rasa
dingin ini.
Kemana saja aku selama ini? Ternyata guruh dan angin adalah
hal yang patut untuk disyukuri.
Bahkan aku begitu mencintai kesederhanaanmu. Berteduh
menunggu hujan reda, atau bahkan tertawa riang diatas sepeda motormu menerobos
derasnya hujan.
Hei…
Bersama rindu, kutitipkan bahagiaku padamu. Hanya bahagia.
Biarlah kesedihanku hanya aku yang menanggungnya. Kamu, jangan.
Karena kamu… terlalu berharga.
Jakarta, 6 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar