Tak ada yang salah dari membaca. Tak ada yang salah dari mengagumi. Tapi malulah ketika kau tahu sesuatu yang termiliki, namun masih saja kau akui sebagai hak milik.
Minggu, 09 Oktober 2016
Untuk Wanita...
Selasa, 06 September 2016
Apa Kabar, Cinta Pertama?
Apa kabar, Cinta Pertama? Kiranya sudah hampir lima tahun kita tidak berjumpa, bukan? Bagaimana sekarang keadaanmu? Masihkah senyummu memukau seperti dulu?
Apa kabar, Cinta Pertama? Kiranya sudah hampir lima tahun kita tidak saling bercakap-cakap, bukan? Bagaimana sekarang suaramu? Apakah lebih berat? Atau masih selembut dulu? Bagaimana dengan tatapanmu? Masihkah seteduh dulu?
Apa kabar, Cinta Pertama? Kiranya sudah hampir lima tahun kita tidak saling bersenda gurau, bukan? Bagaimana sekarang tawamu? Masihkah menggetarkan hatiku?
Apa kabar, Cinta Pertama? Kiranya sudah hampir lima tahun aku mengetahui kamu sudah memiliki kekasih, bukan? Bagaimana kabarmu dengannya? Atau... kamu sudah memiliki gadis lain?
Apa kabar, Cinta Pertama? Semoga kamu selalu ingat bahwa dulu kita pernah melalui banyak hal bersama. Ralat, sepertinya aku yang menganggapnya berlebihan. Kamu tetaplah menjadi orang pertama yang memberikanku potongan pertama kue ulang tahunmu di ulang tahun kelima belasmu. Kamu tetaplah menjadi orang pertama yang membangkitkan khayalan gilaku tentang cinta di usiaku yang saat itu masih tiga belas tahun. Kamu orang pertama yang berhasil membangkitkan degupan jantungku kala kamu bertanya tentangku.
Kita tak pernah berpacaran, tapi tak ada yang salah jika aku menyebutmu sebagai cinta pertamaku, bukan? Alasannya? Ah, sudahlah, biarkan kamu menerka-nerka sendiri.
Ngomong-ngomong... sekarang aku sudah memiliki penggantimu. Iya, pacar pertamaku. Laki-laki yang tak pernah kusangka-sangka akan menjadi penggantimu di hatiku. Laki-laki dengan tabiat anehnya yang selalu melekat dalam diriku. Laki-laki yang selalu ku-bully ketika kita masih duduk di bangku SMP dulu. Laki-laki yang dulu sempat kuamini agar tidak akan pernah menjadi kekasihku. Laki-laki yang pasti kamu kenal.
Iya, laki-laki itu adalah orang terbaik yang selalu kupanjatkan dalam doa. Laki-laki itu adalah orang terbaik yang tak pernah membuatku risau kala jauh darinya.
Kamu tahu? Tanpa kuminta untuk memberi kabar, dia selalu memberi kabar untukku, tak peduli sesibuk apapun dia saat itu. Tanpa kuminta untuk memberi ucapan selamat pagi, dia selalu mengirimkannya untukku setiap pagi. Sama halnya dengan ucapan selamat malam darinya. Ucapannya seakan meninabobokanku, mengantarkanku ke dalam mimpi yang indah. Tanpa kuminta untuk hadir tepat waktu, dia selalu datang tepat waktu untukku. Tanpa kuminta untuk menjadi seseorang yang bertanggung jawab, dia sudah mewujudkannya untukku, bahkan lebih.
Lantas kamu pasti bertanya, bukan, untuk apa aku menyapamu kalau begitu? Ini yang ingin kusampaikan padamu.
Terima kasih...
Karenamu, aku menjadi lebih menghargai arti menunggu yang sebenarnya.
Karenamu, aku menjadi paham arti dari indah pada waktunya.
Karenamu, aku bisa berada di posisi sekarang; di posisi mencintai dan dicintai.
Kamu tetaplah menjadi cinta pertamaku. Kamu tetaplah menjadi orang yang akan selalu singgah dalam hatiku. Namun, posisimu didalam hatiku hanyalah diam dan terkunci. Sedangkan penguasa hatiku saat ini, adalah dia. Dia yang bertanggung jawab atas hatiku. Jadi aku disini ingin memberitahumu, bahwa saat ini aku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku sudah jauh lebih bahagia dari sebelumnya.
Ingat ketika kamu berkata padaku jika kamu menyukai wanita lain, dan meminta izin padaku? Saat itu aku berkata padamu untuk mendoakanku agar segera menyusulmu dan mendapat penggantimu yang lebih baik, bukan? Ternyata Tuhan Maha Mengabulkan. Dia mengirimkan seseorang yang lebih dari yang aku inginkan. Maaf aku tak bisa memberitahumu apa saja hal yang membuatku jatuh cinta padanya. Aku tak mau gadis lain menjadi ikut jatuh cinta padanya. Karena ternyata, ada banyak hal tentang dirinya yang belum diketahui oleh siapapun, begitu pula olehku.
Sehat selalu, ya. Kuharap suatu hari nanti kita bisa bertemu dengan pasangan pilihan kita masing-masing. Membuktikan bahwa kita saat itu sama-sama merasa bahagia, tanpa terbebani masa lalu. Biarlah masa lalu menjadi milik kita sendiri. Asal masa depan, mutlak kita miliki masing-masing, dengan pasangan pilihan kita yang tepat.
Jakarta, 8 September 2016.
Hujan
Kulirik jam tangan kulit cokelat muda-ku. Pukul lima lewat sepuluh menit. Tapi suasana disini sudah terlihat seperti pukul enam sore. Lampu-lampu penerang jalan pun terlihat sudah dinyalakan.
Tak lama kemudian, rintik hujan mulai terdengar dari atap shelter bus Transjakarta tempatku berdiri saat ini. Hujan mulai turun. Suasana diluar sana terlihat semakin semrawut. Banyak orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Banyak pengendara sepeda motor yang berhenti di pinggir jalan untuk sekadar mengenakan jas hujan, atau berteduh di halte bus maupun dibawah pohon yang cukup rindang.
Aku suka saat seperti ini. Bau tanah bercampur air hujan yang khas. Aku menyebutnya bau hujan. Kupejamkan mataku untuk menikmati saat-saat ini. Tetes demi tetes hujan yang terdengar semakin deras, aroma khas hujan, membuatku teringat akan kenangan itu. Kenangan bersamamu.
Ah, pada awalnya, aku benci hujan. Tapi kamu datang membawa arti lain tentang hujan.
Kemana saja aku selama ini? Ternyata hujan begitu menenangkan.
Hei…